Konektivitas Indonesia Timur Lancarkan Suplai Komoditas

03 Mei 2018 | Rilis Berita

INAPORT4 – PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) tercatat sukses membangun konektivitas di Indonesia Timur, terbukti dengan penurunan harga barang kebutuhan akibat kelancaran suplai sejumlah komoditas di wilayah ini. Kesuksesan ekspor langsung komoditas unggulan dari beberapa daerah di Indonesia Timur juga menjadi tolok ukur bahwa BUMN Kepelabuhanan ini memang fokus dan serius dalam upaya membangun konektivitas di wilayah timur Indonesia. 

Bahkan, mega proyek yang juga menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang pembangunannya sudah dikerjakan sejak 2015, Makassar New Port (MNP), digadang-gadang akan menjadi pelabuhan utama yang akan menopang konektivitas dari wilayah-wilayah di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung mengatakan sejak akhir 2015, pihaknya sudah berupaya membangun konektivitas di Indonesia Timur dengan melakukan direct call dan direct export ke luar negeri bekerjasama dengan perusahaan pelayaran internasional asal Hongkong, SITC. Kedua kegiatan tersebut (direct call dan direct export) hingga kini intens dilakukan Perseroan dari beberapa pelabuhan besar di KTI, di antaranya Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Pantoloan, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan Balikpapan dan Pelabuhan Jayapura.

“Semua itu merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan konektivitas domestik dan menekan disparitas harga, yang sebelumnya begitu tinggi antara wilayah barat dan timur Indonesia,” kata Doso Agung.

Dia menyebut, selama ini cukup banyak bukti konektivitas di Indonesia Timur berhasil, terutama dalam menekan disparitas harga barang kebutuhan dan membuat Sulawesi Selatan pernah mengalami deflasi, tepatnya pada Ramadan dan jelang Lebaran Idul Fitri 2017 lalu.

Menurutnya, konektivitas sangat erat hubungannya dengan pengendalian harga komoditas di Indonesia Timur. Musababnya, terbangunnya konektivitas via laut, otomatis membuat suplai sejumlah komoditas ke wilayah ini lebih terbuka. Alhasil, disparitas harga antara timur dan barat perlahan menyusut, disusul dengan harga barang di tingkat konsumen yang juga menurun. “Muaranya yakni menggairahkan kembali daya beli masyarakat,” sebut Doso.

Tercatat, untuk harga semen di Wamena, Papua, yang semula Rp500.000 per sak, kini bisa dinikmati konsumen dengan harga Rp300.000 per sak atau mengalami penurunan harga sebesar 40%. Begitu juga dengan harga beras di Sorong yang semula Rp13.000 per kg, kini tinggal Rp10.500 per kg atau turun harga sebesar 20%.

Lebih jauh, Doso menyatakan direct call dan direct export juga membuka peluang bagi daerah di Indonesia Timur untuk menambah pendapatan daerah. Kawasan Timur Indonesia diketahui kaya komoditas unggulan yang selama ini diminati negara asing. Namun, negara asing hanya mengetahui komoditas itu berasal dari Surabaya atau Jakarta lantaran pengirimannya melalui Tanjung Perak atau Tanjung Priok. 

“Tapi sejak Desember 2015, produk unggulan dari Indonesia Timur sudah bisa dikirim langsung ke luar negeri via Makassar tanpa singgah di Surabaya dan Jakarta. Tentunya itu bisa menambah pendapatan daerah dari berbagai biaya yang ditimbulkan,” ujarnya.

Diakui Doso, mulanya pengiriman langsung ke luar negeri via Makassar dianggap sebagian orang sebagai hal yang mustahil. “Namun akhirnya, Pelindo IV bisa membuktikan bahwa semua itu bisa dilakukan.”

Dirut Pelindo IV optimistis, dengan beroperasinya Makassar New Port (MNP) yang ditarget rampung Oktober tahun ini, konektivitas di wilayah Indonesia Timur dan kegiatan direct call serta direct export yang dilakukan selama ini akan semakin lancar karena volume barangnya akan lebih banyak di angkut dengan kapal berukuran besar karena dermaga di desain dengan ukuran 16 M.

Terakhir, pada sekitar April lalu, pembangunan mega proyek ini dikunjungi langsung oleh Kepala Staf Kepresidenan RI, Jenderal (Purn) TNI, Moeldoko. Sebelumnya, pada sekitar Januari 2018, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri BUMN, Rini Soemarno juga telah menyambangi proyek yang untuk Tahap I diestimasi menelan total biaya sekitar Rp1,8 triliun.

Dalam kunjungannya pada 25 April lalu, mantan Panglima TNI ini mengapresiasi pembangunan MNP yang progressnya per 30 April 2018 telah mencapai 67,21%. 

Saat melihat langsung lokasi pembangunan MNP, Moeldoko yang didamping Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung dan Direktur Fasilitas dan Peralatan Pelabuhan Pelindo IV, Farid Padang, mengatakan bahwa ada tiga hal yang dia apresiasi dari pembangunan tersebut.

“Pertama yang saya apresiasi adalah progressnya. Kedua dari sisi efisiensi dan yang ketiga adalah dari segi daya tahan fasilitasnya karena dari segi daya tahan, didesain menggunakan teknologi konstruksi yang tinggi,” ujar Moeldoko.

Doso Agung menuturkan bahwa progress pembangunan MNP cukup cepat. Kondisi itu untuk mengejar target yang telah dipatok, agar MNP Tahap I bisa kelar pada Oktober mendatang dan berfungsi optimal pada awal 2019 nanti.

“Hingga 30 April 2018, realisasi fisiknya sudah mencapai 67,21%.”  Diperlukan integrasi jaringan jalan dari gate MNP ke jalan tol dengan koordinasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan menurut Moeldoko, akan ada tindak lanjut setelah mendengar informasi dari Dirut Pelindo IV.

Direktur Fasilitas dan Peralatan Pelabuhan Pelindo IV, Farid Padang menambahkan, MNP Tahap I dibangun secara paket. Untuk paket A yang pembangunannya sudah dimulai sejak Juni 2015, progressnya sudah mencapai 79,23%. Paket B yang dibangun sejak September 2016, realisasi fisiknya sudah 67,18% dan paket C yang dibangun bersamaan dengan paket B, progressnya sudah 49,46%. 

Sistem dermaga yang diaplikasikan adalah type secant pile dengan sistem boring yang bisa mengefisiensikan waktu dan biaya dengan kualitas yang lebih baik, di mana penerapannya baru ada dua di dunia, yaitu di Liverpool dan Makassar New Port.

Dermaga ini adalah dermaga modern yang terkoneksi dengan jaringan kereta api Trans Sulawesi dan akan dioperasikan terintegrasi dengan pusat logistik Kawasan Berikat. Posisi ketinggian dermaga & CY dari permukaan air adalah 4 meter dan draft dermaga 16 meter dengan kedalaman boringpile sea bad 14 meter, reklamasi CY dan Causeway Settlement tanah lumpur 6 meter sebelum direklamasi untuk mendapatkan kondisi tanah ideal agar dilakukan pengoperan tanah prosesnya lebih cepat.  

Farid menerangkan, untuk paket A, saat ini pihaknya sedang mengerjakan borepile dermaga dan upper structure. Di paket B, sedang dilakukan pekerjaan revetment, pengecoran saluran precast dan pekerjaan perkerasan paving block. ”Sementara itu, pekerjaan yang sedang dikerjakan di paket C saat ini adalah, produksi core 1 – 5 kg, produksi underlayer 5 – 10 kg, pemasangan core breakwater (1 – 5 kg) dan pemasangan toe protection breakwater 100 – 160 kg. Selanjutnya sedang disiapkan perpanjangan pekerjaan lanjutan paket B dan C dengan ukuran 680 meter x 27 meter, sehingga total menjadi dermaga 1.000 meter dapat sesuai rencana.